Matahari sudah sangat ingin kembali ke peraduannya ketika kegiatan ini akan dimulai untuk kali pertamanya. Betapa tidak, waktu yang direncanakan semula akan berlangsung pada Kamis 9 Juni pukul empat sore di Rumah Nalar, malah molor hingga satu jam setengah. Ada beberapa kendala teknis dan human error sebelum kegiatan tersebut berlangsung. Akan tetapi, keseluruhan proses kegiatan dari awal hingga akhir dapat menambah wawasan sekaligus menyeruakkan kembali ingatan-ingatan kami mengenai penelitian khusunya penelitian pendidikan. Hal ini sangatlah mendukung terpeliharanya budaya diskusi dan ber-literasi yang terdapat di LPM Penalaran UNM.
Merunut ke tujuan diadakannya, kegiatan ini merupakan 'Pra Seminar Proposal' bagi mereka yang ingin memperoleh saran-saran termasuk kritikan terhadap usulan penelitian yang diajukan ke jurusan masing-masing. Alhamdulillah, inisiasi untuk menyelenggarakannya pertama kali datang dari saudara Elli yang merupakan anggota baru LPM Penalaran UNM Angkatan XIV. Menyambut iktikad baik tersebut, maka pengurus melalui Sekretaris Umum Ma'ruf M. Noor berusaha mengakomodasi sebaik mungkin dengan terselenggaranya Kajian Rutin 'Pra Seminar Proposal'. Tim kajian mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kak Ma’ruf. Persiapan yang cukup singkat pun dilakukan kurang dari dua hari. Print out proposal ke dua orang penguji plus pesan singkat informasi kegiatan ke anggota baru, pengurus, serta pendamping. Penguji pertama ada Andi Fajar Asti S.Pd, M.Pd, M.Sc. dan Umar Ibsal S.Pd. Penguji yang terakhir disebutkan berhalangan hadir namun beliau berjanji untuk meninggalkan coretan-coretan tangan di hardcopy proposal yang sudah kami serahkan sebelumnya. Beruntung pada saat kegiatan berlangsung, kanda Erwin Saputra yang juga alumni LPM Penalaran UNM tampil menggantikan Umar Ibsal, S.Pd. selaku penguji pembanding.
Proposal yang dipresentasikan berjudul "Peranan Pendekatan Inkuiri Hipotetik Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Pembelajaran Fisika Siswa Kelas XI MAN Model Makassar". Rumusan masalah yang ditetapkan ada tiga buah, yang pertama adalah seberapa besar kemampuan berpikir siswa yang diajar menggunakan pendekatan inkuiri hipotetik, kedua seberapa besar kemampuan berpikir siswa yang diajar dengan menggunakan tanpa menggunakan pendekatan inkuiri hipotetik, dan terkahir apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar menggunakan pendekatan inkuiri hipotetik dengan yang diajar tanpa menggunakan pendekatan inkuiri hipotetik. Menjadi perdebatan dan diskusi yang menarik antara pemateri, penguji, dan peserta bagaimana menjawab rumusan-rumusan masalah yang ada.
Metode penemuan (discovery learning) atau inkuiri adalah teori belajar yang dikembangkan oleh Jerome S. Bruner, seorang ahli psikologi dari Universitas Harvard Amerika Serikat pada tahun 1915. Satu hal menjadikan Bruner menjadi begitu terkenal adalah karena dia lebih peduli terhadap proses belajar dari pada hasil belajar. Discovery learning dari Buner, merupakan model pengajaran yang dikembangkan berdasarkan pada pandangan kognitif tentang pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivis. Dalam teori belajar penemuannya, ada beberapa keuntungan dari penggunaan pendekatan inkuiri hipotetik, antara lain pemahaman siswa terhadap konsep akan lebih baik, menambah daya ingat sehingga memudahkan mengadakan transfer pada proses belajar yang baru, mendorong siswa belajar aktif dan berinisiatif, memungkinkan siswa berpikir intuitif dan mengemukakan hipotesis sendiri, menimbulkan kepuasan yang bersifat instrinsik, dan lebih merangsang siswa untuk belajar.
Sebagaimana model-model pembelajaran pada umumnya, sintaks diperlukan untuk mengetahui urut-urutan langkah pembelajaran. Sehingga menjadi jelas pada langkah pembelajaran yang bagaimana guru dapat merangsang kemampuan siswa untuk berpikir kritis. Dan yang paling penting adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur signifikansi kemampuan siswa berpikir kritis yng diajar menggunakan pendekatan hipotetik dengan siswa pada kelas kontrol. Langkah-langkah utama dalam kegiatan inkuiri hipotetik, antara lain memunculkan ide-ide siswa dan dikembangkan menjadi aktivitas hands-on dan minds-on, siswa melakukan dan selanjutnya mengamati aktivitas hands-on, merumuskan hipotesis berdasar aktivitas hands-on dan minds-on, siswa membuat dan melakukan eksperimen untuk mencari kebenaran dari hipotesisnya, siswa mengumpulkan data eksperimen, menginterpretasi data untuk membuktikan hipotesisnya, siswa mengecek kebenaran hipotesisnya dan membiarkan siswa merumuskan kembali hipotesis mereka.
Setelah pemaparan proposal berakhir, dilanjutkan dengan pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Ilham Baharuddin bertanya tentang pemahaman sebenanarnya tentang inkuiri hipotetik dan apakah pendekatan inkuri ini lebih tepat disinergikan dengan model pembelajaran langsung atau tidak. Nurul Ichsania mencoba menggugat kelemahan dan kelebihan pendekatan inkuiri hipotetik dengan jenis inkuiri yang lain. Kemudian Rahmat Fajar Asis sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi berkelut lidah dengan penguji dan pemateri tentang substansi penelitian eksperimen (belakangan dijelaskan oleh penguji bahwa Penelitian Eksperimen terbagi atas eksperimen murni dan eksperimen semu/quasi eksperimen). Adapun saudara Wahyuddin mengkritisi alasan saudara Elli menetapkan simple random sampling (dengan tabel bilangan acak) sebagai metode pengambilan sampel. Dalam hal ini bagaimana menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Diskusi ini menjadi sangat menarik jika kami bandingkan dengan kajian-kajian sebelumnya karena berlangsung dengan informal sehingga ide-ide keluar spontan dan terkadang mengundang tawa. Saudara Elli sendiri lumayan baik dalam menyampaikan presentasi namun masih terkesan ragu-ragu dengan jawaban atas setiap pertanyaan yang dilontarkan.
Hingga akhirnya waktu untuk kedua penguji menyampaikan perbaikan-perbaikan usulan proposal telah tiba. Penguji pertama Andi Fajar Asti S.Pd, M.Pd, M.Sc memulai dengan kajian pustaka mengenai berpikir kritis dirasa masih sangat kurang, sehingga indikator untuk siswa yang kritis agaknya kurang jelas. Hal ini berujung kepada pembuatan instrumen kemampuan berpikir kritis akan mengambang. Masih berdasarkan penejelasan kak Fajar bahwa pendekatan inkuiri kenyataannya adalah pendekatan yang paling baik dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis. Oleh karenanya kurang tepat jika frame-nya penelitian eksperimen melainkan diganti dengan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Ini saran paling ekstrim dari penguji jika ingin aman, banting setir mengubah metode penelitian dari eksperimen menjadi penelitian tindakan kelas. Subpokok bahasan yang diajarkan hendaknya sesuai dengan pendekatan yang diberikan menjadi perhatian perhatian penguji pembanding Erwin Saputra S.Pd. Sebab, pendekatan inkuiri hipotetik tidak semua dapat diterapkan ke semua pokok bahasan mata pelajaran Fisika. Kemudian jumlah sampel penelitian yang mesti diperjelas dengan melakukan survey dan observasi awal di sekolah tempat lokasi penelitian.
Secara umum, kajian ini berlangsung dengan baik, lancar, dan dipenuhi enthusiasme anggota baru LPM Penalaran UNM. Namun partisipasi pengurus dalam setiap kajian menjadi tanya tanya besar dengan ketidakhadiran mereka. Entah karena alasan apa dan bagaimana. Padahal kami berharap, dengan kegiatan-kegiatan seperti kajian rutin maupun kajian pemateri atau juga English Meeting dapat tercipta siklus informasi ilmiah yang baik. Sebab, menurut kami kajian rutin adalah: Wadah Diseminasi Informasi Ala Orang-Orang di Rumah Nalar.
Best Regards.....


