Kamis 30 Desember 2011, terungkap sebuah rahasia “besar” dalam ilmu psychology, teori relaksasi. Itulah tema kajian dengan nuansa baru yang dihadirkan oleh Dian Din Astuti Mulia. Kajian yang akhirnya terlaksana pada pukul 16.30 WITA, menggemparkan rumah nalar dengan memberi terapi relaksasi kepada kawan-kawan penalaran. Dian Din Astuti Mulia, sebagai pemateri begitu bersemangat dalam memberi penjelasan tentang bagaimana terapi ini bekerja.
Sebelum memulai inti kegiatan, kawan-kawan yang hadir diberi selebaran kertas yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang berisikan angka-angka, tes ini menuntut logika untuk bekerja. Seperti pada kebanyakan orang, ketika diperhadapkan dengan rentetan angka-angka beberapa teman-teman mulai menyatakan ketidaksanggupannya dengan kata lain “stress” mulai memasuki jiwanya. Setelah beberapa menit berlalu tiba saatnya selebaran tadi dikumpul pada pemateri.
Pemateri telah menduga bahwa beberapa orang merasa pusing dan stress tatkala mengerjakan soal-soal logika tadi. Selanjutnya pemateri menunjukkan video yang berisikan cara terapi relakasasi itu dilakukan. Pemateri memberi arahan kepada kami untuk mendengarkan dan melaksanakan instruksi yang datang dari video. Tahapan demi tahapan mulai kami lakukan, awalnya sulit untuk memfokuskan diri namun sering berjalannya tahapan-tahapan yang lain, kami pun akhirnya dapat berkonsentrasi dengan baik. Tibalah pada tahapan yang terakhir yang menandakan terapi selesai dan mata dapat kembali dibuka.
Berdasarkan penelitian mengenai relaksasi, menunjukkan bahwa relaksasi dapat mengurangi ketegangan dan kecemasan. Relaksasi adalah suatu teknik yang merupakan bagian dari terapi perilaku. Menurut pandangan ilmiah, relaksasi adalah perpanjangan serabut otot skeletal, sedang ketegangan adalah kontraksi terhadap perpindahan serabut otot (Beech dkk., 1982).
Sistem saraf manusia terdiri atas sistem saraf pusat dan ssstem saraf otonom. Sistem saraf otonom terbagi menjadi sistem saraf simpatetis yang bekerja diantaranya dengan meningkatkan rangsangan atau memacu organ-organ tubuh dan saraf parasimpatetis yang menstimulasi turunnya semua fungsi yang dinaikkan oleh sistem saraf simpatetis & menstimulasi naiknya semua fungsi yang diturunkan oleh saraf simpatetis.
Saat kita mengalami ketegangan dan kecemasan maka yang bekerja adalah sistem saraf simpatetis, sedang sistem saraf parasimpatetis bekerja pada waktu kita dalam keadaan rileks. Dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang dan rasa cemas dengan resiprok sehingga timbul counterconditioning dan penghilangan (Bellack & Hersen, 1977; Prawitasari, 1988).
Burn (dlm Beech dkk., 1982) menjabarkan beberapa manfaat/keuntungan dari relaksasi yakni:
-
Membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yg berlebihan karena adanya stres
-
Masalah-masalah yang berhubungan dengan stres (seperti hipertensi, sakit kepala, insomnia) dapat dikurangi atau bahkan diobati dengan relaksasi
-
Mengurangi tingkat kecemasan
-
Mengurangi kemungkinan gangguan yang berhubungan dengan stres & mengontrol anticipatory anxiety sebelum situasi yang menimbulkan kecemasan, seperti pada pertemuan penting, wawancara, dan sebagainya.
-
Mengurangi perilaku buruk selama periode stres, misalnya : merokok, minum alkohol, obat-obatan, makan yang berlebihan
-
Meningkatkan penampilan kerja, sosial, & keterampilan fisik
-
Mengatasi dengan lebih cepat kelelahan, aktivitas mental & terapi fisik yg tertunda
-
Memiliki kesadaran diri tentang keadaan fisiologis
-
Membantu menyembuhkan penyakit tertentu dan operasi
-
Meningkatkan harga diri dan keyakinan diri
-
Meningkatkan hubungan interpersonal
Macam-macam bentuk relaksasi diantaranya relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera, relaksasi melalui hipnosa, yoga, dan meditasi. Relaksasi otot bertujuan mengurangi ketegangan dan kecemasan dengan cara melemaskan otot-otot badan. Ada 3 macam relaksasi otot : tension relaxation, letting go, & differential relaxation. Adapun relaksasi kesadaran indera yakni dengan memberi satu seri pertanyaan yang tidak untuk dijawab secara lisan melainkan untuk dirasakan sesuai dengan apa yang dapat atau tidak dapat dialami klien pada waktu instruksi diberikan.


