You are here:

www.penalaran-unm.org

email_icon chat_icon fb_icon twittericon media_browser_icon Statistik_Icon_
Email Chatting Grup Facebook Twitter Nalar Today Statistik Web

“KARINA: How to Critical Thinking (High Other Thinking) and Academic Writing” Subaer,2011

Print PDF

Kajian  Rutin Nalar (KARINA) perdana untuk periode 2011/2012 dengan judul “How to Critical Thinking (High Other Thinking) and Academic Writing”, dibawakan oleh Drs.Subaer M.Phill, Ph.D. Beliau merupakan Pembina LPM Penalaran periode 2011/2012 dan dosen di Jurusan Fisika sekaligus peneliti terbaik di UNM dengan prestasi dalam bidang penelitian yang kini sudah diakui secara Internasional sehingga menjadi sesuatu yang wajar jika materi yang beliau bawakan dalam konteks berbahasa inggris. Kajian ini dilaksanakan di Perpustakaan Induk UNM Gunung Sari, mulai pukul 16:00 WITA, kegiatan ini berlansung dengan baik dengan peserta sebanyak 16 orang. Para peserta bersemangat untuk hadir meski saat itu sedang hujan deras dan rasa antusias mereka pun timbul untuk menerima materi yang sangat menarik tersebut .

Untuk materi ini, penalaran merasa bangga karena pertama kali dibawakan di depan mahasiswa dan hanya di penalaran. Sebelumnya Beliau telah membawakannya untuk melatih para dosen pada 78 Universitas se-Indonesia baik PTN maupun PTS . How to Critical Thinking (High Other Thinking) and Academic Writing dalam bahasa Indonesia artinya “Bagaimana berpikir kritis (berpikir tingkat tinggi) dan Menulis akademik merupakan materi yang sangat penting bagi mahasiswa untuk membantu dalam pembuatan Karya Tulis baik, merencanakan sebuah judul,pembuatan Proposal, Hasil penelitian, atau skripsi bahkan thesis atau disertasi bagi mahasiswa pasca sarjana.

Manusia sebagai makhluk sosial butuh sebuah pengakuan yang boleh jadi menjadi motivasi untuk terus melangkah dan berprestasi. Pertanyaan yang kemudian hadir ketika kita bermimpi untuk menjadi terkenal, sukses, dsb adalah “Apa yang saya perlukan agar bisa terkenal di masyarakat dunia (masyarakat ilmiah). Nah, terkadang mimpi itu tak sejalan dengan realita yang ada, mengapa hal tersebut terjadi? Ada 2 alasan yang paling fundamental atas masalah tersebut yaitu:

1. Belum memiliki kemampuan

2. Tidak memperkenalkan diri dengan jalur yang benar

Dari kedua alasan di atas, tentu memiliki penyebab tertentu mengapa hal ini terjadi padahal mungkin secara idealis kita berpandang bahwa setiap manusia memiliki kemampuan di bidang masing-masing yang dapat diperkenalkan pada masyarakat luar. Namun ada hal lain yang menjadi factor utama yaitu:

  1. Peneliti untuk sebuah instansi, sekolah, dan organisasi tertentu hanya berasal dari peneliti – peneliti sebelumnya atau yang telah lama bergelut dan berprestasi didalamnya, artinya tidak ada regenerasi. Padahal dana penelitian khususnya untuk UNM cukup banyak berkisar antara 4 sampai 6.5 juta
  2. Dari UNM publikasinya hanya 10% ke jurnal , 12 untuk tingkat Nasional dan 0 untuk internasional . Hal ini merupakan hal yang sangat menyedihkan.
  3. Tidak menyadari bahwa tugas seorang akedemik adalah memberi sumbangsi  bagi kemajuan ilmu  teknologi yang kemudian dikenal sebagai ilmuwan. Kebanyakan hanya beregelut dalam proses pengembangan ilmu secara pribadi (individualitas)
  4. Kuliah hanyalah dijadikan sebuah pekerjaan teoritis.
  5. Begitu pun dalam melakukan penelitian, hanya sampai pembuatan laporan dan publikasi yang dilakukan. Ini yang disebut laboran teoritis

Dari beberapa faktor di atas, adapun solusi yang ditawarkan adalah seseorang harus memiliki:

  1. Kemampuan berfikir tingkat tinggi (critical thinking) higher other thinking. Sementara  fakta dilapangan terutama kampus UNM, ketika mengajar hampir semua dosen hanya bercerita dan tidak ada latihan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Model ini disebut eksperimen cookbook yaitu bekerja sesuai resep atau sintaks yang telah ditentukan sehingga  tidak terbangunnya berpikir kritis mahasiswa. Hal yang sama terjadi pada asisten/pendamping di laboratorium karena hanya memberikan pertanyaan yang menjebak bagi praktikan/mahasiswa untuk memperlihatkan sebuah kecerdasan yang tinggi dalam dirinya )
  2. Kemampuan academic writing, yaitu kemapuan menulis akademik/ilmiah dengan baik dan benar dalam bahasa internasional sehingga sebuah penelitian mampu bersaing dan diakui di tingkat Internasional, tidak hanya berputar-putar di tingkat nasional saja.

Adapun penjelasan dari  Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (High Other Thinking)

Menurut Plutarch “the mind is not a vessel to be filled but a fire to be ignited”. Sementara menurut Taksonomi Bloom’ menjelaskan sebagai berikut

Original Terms        ------------>      creating

Evaluation                ------------>     New Terms

Synthesis                 ------------>     Evaluating

Aanalysis                 ------------>     analyzing

Application              ------------>     applying

Comprehension      ------------>     understanding

Knowledge              ------------>     remembering

 

Analogi nya ketika kita kembali membaca sejarah pembuatan pulpen yang digunakan di luar angkasa dan ditinjau pada proses penelitiannya dapat ditarik dua point kelebihannya yaitu:

a.  Kreatif untuk inovasi artinya menghasilkan sesuatu baru yang belum pernah ada sebelumnya.

b.  Kreatif untuk fungsional yang divergen artinya memiliki dua fungsi lebih

Seperti inilah hasil dari berpikir para ilmuwan, dengan mempertimbangkan semua kekuarangan, fungsi, dan kelebihan maka terciptalah teknologi tersebut. Dan pertanyaan selanjutnya bagi diri kita apakah kita didorong untuk melakukan sesuatu dan membuat sebuah inovasi melalui berpikir kritis? Jawabannya pasti IYA. Mengapa? Mari kita tinjau apa tugas akhir dari pendidikan yang kita tempuh terutama di bangku kuliah:

  1. Untuk jenjang S1, pada tugas akhir kita dituntut untuk membuat skripsi. Artinya setiap lulusan nantinya harus memiliki sebuah hasil penelitian. Hasil penelitian inilah merupakan sebuah inovasi.
  2. Untuk jenjang S2, mahasiswa dituntut untuk melakukan sebuah penemuan (discovering) dalam sebuah thesis yang tentunya lebih tinggi tingkatannya dari sebuah skripsi. Discovering inilah merupakan inovasi.
  3. Untuk jenjang S3, mahasiswa dituntut untuk menjadi arif dan bijaksana di bidangnya (wise) melalui disertasi yang dibuatnya. Nah disertasi inilah akan didtuntut sebuah inovasi bagaimana seseorang memiliki sifat arif dibidangnya. Sifat arif yang dimaksud adalah menguasai secara keseluruhan tiap item dari bidangnya, salah satu tandanya adalah terlihat mudah menjelaskannya kepada orang lain walaupun bagi oranglain hal itu sangatlah sulit.

 


LOTS (Lower order thinking skills)

Knowledge acquisition = remembering and understanding

Memiliki sebuah kompetensi yang utuh, contonya: ketika seorang penari bisa menampilkan sebuah tema/concept dengan tarian yang makin lama makin indah, dan mampu memahami musik dengan baik kapan harus memulai tariannya  tanpa harus menunggu aba-aba

 


Knowledge deepening = applying n analyzing

Kemampuan inilah yang harus dimiliki oleh anggota penalaran. Kemapuan ini hanya bisa dibangun ketiak anda melakukan sebuah observasi secara tertulis atau tidak dan memiliki kritikal thinking.

 

Knowledge creation = evaluating n creating

Kemampuan untuk mengevaluasi apa yang ada, meninjau apa yang kurang dan kemudian mencipatakan inovasi baru.

 

What is critical thinking???? 

Critical thinking is:

  1. No one always act purely objectively and rationally. We connive for selfish interest. (Mematangkan diri = tdk ada sesuatu yg bs berjalan dgn baik, sukses, dan berjangka lama tanpa usaha yg besar )
  2. We gossip, boast, exaggerate, and equivocate. (ketika melihat kesempatan ataupun kekurangan, maka akan melakukan yg terbaik (memiliki kebijaksanaan)
  3. It is “only human” to wish to validate our prior knowledge to vindicate our prior decisions or to sustain our earlier. (kita harus bercita-cita menjadi orang yang bernilai bukan sukses, karena kesuksesan hanyalah sebuah efek darir nilai,dan orang yang sukses belum tentu bernilai.)

 

Berpikir Kritis Terdiri Atas Kombinasi Yg Kompleks Dari Keterampilan:

1. Rasional

a. Mementingkan alasan bukan emosi

b. Pembelajaran yg berdasarkan fakta/bukti  (evidence), yang tidak memiliki bukti maka tak dianggap

c. Selalu memberikan penjelasan terbaik yang paling tepat, daripada sekedar bukti-bukti  dan statistic tertentu

2. Kesadaran diri (self-awareness)

a. Menghindari Pengaruh motif-motif tertentu dan prasangka buruk

b. Recognize our own assumption prejudices, biases, or point of view (mengakui asumsi , keputusan,dorongan, dan point dari diri sendiri. Jika sesuatu itu benar maka pertahankanlah).
3. Honesty
Kita berpikir kritis ketika tidak berpikir untuk menipu, tapi kejujuran (karna yang terpenting adalah penjelasan atas apa yang diperoleh, bukan atas apa yang direkayasa terutama dalam penelitian) 
4. Open-mindedness (terbuka untuk diinterpretasi dengan cara yang berbeda)

a. Evaluasi semua kesimpulan dan alas an, sehingga  tidak perlu mati2an mempertahankan sebuah pendapat jika pendapat itu memang salah.

b. Memperhatikan berbagai pandangan.

c. Remain open to alternative interpretations (membuka diri untuk menerima pandangan lain)

d. Accept a new explanation, model, or paradigm because it explains the evidence better, is simpler, or has fewer inconsistencies or  covers more data (menerima penjelasan baru karena boleh jadi itu akan lebih menjelaskan alas an terbaik dengan  lebih simple  dan sekaligus menyimpulkan sesuatu.)

e. Accept new priorities in response to a revaluation of the evidence or reassessment of our real interest (menerima sebuah priorotas baru untuk memperbaiki dan meyempurnakan hasil pemikiran dalam bentuk realitas).

f. Do not reject unpopular views out of hand. (Jangan menolak pandangan yang tidak popular menurut anda. Boleh jadi itu malah sesuatu yang baru)

5. Displin (Discipline)

    We are thinking critically when we:

a. Are precise, meticulous, comprehensive and exhaustive (betindak tepat, teliti, memahami secara luas, dan lebih mendalam)

b. Resist manipulation and irrational appeals (mampu menentang setiap perubahan dan pandangan yang tidak logis)

c. Menghindari untuk mengambil keputusan tergesa-gesa, seorang hakim (lawyer) tidak boleh mengmbil keputusan ketika sedang:

1. Memimpin sidang dalam kondisi tidak sehat

2. Memimpin dalam keadaan tidak emosi 

6. Judgment(pengambilan keputusan)

We are thinking when we:

Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan

 

Adapun kesimpulan dari penjelasan di atas bahwa seseorang yang berpikir kritis mampu melihat segala sesuatunya dari aspek yang bisa ditanyakan ( memiliki curiosity (keingintahuan) yang  tinggi ) ditandai dengan:

  1. Are by nature skeptical. They approach  texts with the same skeptism and suspicion as they approach spoken remarks (memiliki keraguan-raguan atas apa yang ditangkapnya. Menyatukan pandangan atas apa yang membuatnya ragu dan memiliki kecurigaan atas kemungkinan  kesalahan yang diucapkan seseorang.).
  2. Active not passive. They ask question and analyze. They consciously apply tactics and strategies to uncover meaning or assure (bersikap aktif bukan pasif. Seseorang yang berpikir kritis akan meminta sebuah pertanyaan dan sebuah analisa atas apa yang akan dilakukannya. Mengaplikasikan taktik dan strategi untuk menemukan maksud atau keyakinan atas sesuatu yang baru).
  3. Open new ideas (memiliki ide-ide baru)

 

Berpikir kritis ini dapat diaplikasikan di penalaran diantaranya melakukan:

  1. Different ways of writing
  2. Writing as a process
  3. Prewriting: reading n talking
  4. Planning
  5. Revising n reviewing
  6. Editing

 

Follow up selajutnya adalah :

MENULIS ILMIAH (Academic writing)

Comments (0)

Subscribe to this comment's feed

Write comment

smaller | bigger

busy
Last Updated ( Saturday, 31 December 2011 05:38 )  

Pencarian

Layanan Online

HUMAS
1. Kamaruddin
2. humas_02
3. humas_03
4. humas_04
5. humas_05
KLINIK ILMIAH
1. Arman M. Yusuf
2. Erwin Saputra
3. Hilman Wirawan
WEB SUPPORT
1. Electindo
2. Mahyuddin

Sekretariat: Jl. Dg. Tata Kompleks Hartaco Indah Blok IIA/20 Makassar Indonesia Telp. (0411) 840556 Email: info@penalaran-unm.org