User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Kajian Pustaka, Kerangka Pikir, dan Hipotesis 

(Kelas A)

Pemateri : Prof. Dr. Alimuddin Mahmud, M.Pd.

Materi ketiga pada Pelatihan Metodologi Penelitian (PMP) yang dilaksanakan oleh LPM Penalaran UNM dengan judul Kajian pustaka, kerangka pikir, dan hipotesis. Materi tersebut sangatlah penting untuk diketahui oleh mahasiswa dalam menyusun suatu karya tulis ilmiah.

Adapun hal yang dibahas dalam materi tersebut terdiri dari:

1.     Cara pemilihan Referensi

Pemilihan referensi sangatlah penting karena dalam penyusunan kajian pustaka kgiatan yang dilakukan 50% adalah membaca yang berguna untuk mencari teori, konsep, generalisasi bagi landasan teoretik penelitian (menghindari trial and error).

Dalam pemilihan referensi terdapat syarat yang harus dipenuhi yaitu:

1.     Relevansi dengan masalah penelitian (landasan teori)

2.     Recency/aktuality (kemutakhiran)

3.     Otoritas (penulis dan penerbit)

Sumber yang dapat dijadikan referensi dalam penyusunan kajian pustaka adalah:

1.     Jurnal hasil penelitian

2.     Laporan penelitian (disertasi, tesis, skripsi)

3.     Buku teks/hand books

4.     Encyclopedia

5.     Buku

6.     Studi pendahuluan 3P (Paper, Person, dan Place)

Dalam mereduksi referensi dapat dilakukan dengan cara:

1.     Deduktif = pendeskripsian

2.     Induktif = generalisasi

3.     Penyusunan Kerangka Pikir

Kerangka pikir merupakan dasar pemikiran  penelitian yang disintesiskan secara logis dari fakta-fakta empirik  dan  kajian teoretik,  teori, dalil, atau konsep-konsep yang akan dijadikan dasar dalam penelitian.

Syarat penyusunan kerangka pikir yaitu:

1.     Variabel diidentifikasikan secara jelas dan diberi nama.

2.     Uraiannya menyatakan bagaimana dua atau lebih variabel berhubungan satu dengan lainnya.

3.     Sifat dan arah hubungan (positif dan negatif) diteorikan berdasarkan pada penemuan dan penelitian sebelumnya.

4.     Dinyatakan secara jelas mengapa peneliti berharap bahwa hubungan antara variabel itu ada.

5.     Digambarkan dalam bentuk diagram skematis.

6.     Penyusunan Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian. Hipotesis digunakan untuk penelitian yang menghubungkan atau membandingkan antar variabel. Hipotesis terbagi atas 2 yaitu:

1.     Hipotesis kerja (hipotesis alternatif)

       Ada hubungan antara X dan Y

       Ada perbedaan antara X dan Y

   2. Hipotesis Nol (hippotesis statistik)

       Tidak ada pengaruh antara X dan Y

       Tidak ada perbedaan antara X dan Y

Dalam pengujian hipotesis terdapat kesalahan yang sering terjadi yakni kesalahan sampel, kesalahan perumusan hipotesis (teori dan logika), dan kesalahan analisis (statistik).

4. Teknik pengutipan

         Dalam pengutipan dapat dilakukan dengan beberapa cara:

·         Langsung dan tidak langsung

·         Foot Note

·         Kepustakaan

 

Kajian Pustaka, Kerangka Pikir dan Hipotesis

(Kelas B)

Pemateri : Dr. Ir. Muhammad Junda

A. Kajian Pustaka

Fungsi dari kajian pustaka yaitu:

1.     Landasan teori untuk melakukan penelitian.

2.     Alat untuk membuktikan keaslian penelitian sehingga terhindar dari duplikasi

3.     Mendapatkan penemuan yang berhubungan dengan profesi

4.     Hasil penelitian bisa di muat di jurnal dan dipublikasi.

 

Adapun kegunaan dari literatur adalah sebagai berikut:

1.     Bagaimana memperbaiki metodologinya.

2.     Memperluas wawasan / pengetahuan banyak

3.     Bisa menampilkan hasil penelitian

 

Adapun tahap dalam kerangka yaitu:

1.     Cari literatur (buku dan Jurnal)

2.     Sudah ada penelitian yang spesifik / literature yang mengfokus

3.     Mengembangkan kerangka teoritis

4.     Kerangka pikir

 

B. Kerangka Pikir

Berasal dari kerangka Pikir akan menghasilkan Hipotesis.

Kerangka Pikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis antara variabel yang akan diteliti. Secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel Independen dan Dependen. Pertautan antar variabel tersebut, selajutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigma penelitian. Oleh karena itu, pada setiap penyusun paradigma penelitian harus didasarkan pada Kerangka Pikir. Kerangka Pikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih.

 

1.     Hipotesis

Jawaban sementara , memberikan kejelasana, fokus pada permasalahan. Memberikan gambaran atau tuntunana agar fokus pada suatu penelitian.

Fungsi dari Hipotesis

1.     formulasi menyiapkan penelitian kita agar tetap fokus

2.     memberikan data mana yang perlu dan tidak perlu

3.     penyusunan akan meningkatkan nilai objektivitas

4.     memungkinkan penambahan teori

5.     mampu menyimpulkan teori yang sesuai dan tidak sesuai

Cir-ciri Hipotesis

1.     Sederhana

2.     Secara  kontekstual harus jelas, harus bisa dioperasikan

 

3.     Bersifat objektif.

Cara Menentukan Ukuran Sampel

Dalam melakukan sebuah penelitian, sering kali muncul pertanyaan “berapakah jumlah sampel yang dibutuhkan untuk dapat mewakili populasi yang ada?”. Pada dasarnya jumlah sampel yang dibutuhkan untuk mewakili populasi itu sangat tergantung pada tingkat kekeliruan yang diinginkan. Semakin besar ukuran sampel maka kecenderungan tingkat kekeliruan semakin kecil. Hal ini berarti jika menginginkan tingkat kekeliruan yang kecil maka diperlukan ukuran sampel yang lebih besar. Begitupun sebaliknya, semakin kecil ukuran sampel maka tingkat kekeliruan semakin besar (Sugiyono, 2014). Akan tetapi ukuran sampel yang kecil bukan berarti tidak baik, asalkan sampel tersebut dipilih dengan menggunakan tekhnik pengambilan sampel yang tepat sehingga ukuran sampel tersebut dianggap memadai. Untuk ukuran sampel yang besar atau mendekati populasi juga tidak dapat dikatakan sepenuhnya dapat menjamin akurasi dari hasil. Hal ini disebabkan penambahan ukuran sampel dalam meningkatkan akurasi tidak akan berpengaruh dalam mengurangi setiap bias dalam pemilihan prosedur (Silalahi, 2009). Dalam penentuaan ukuran sampel, hal yang penting untuk diperhatikan ialah ukuran dan keterwakilan. Sampel yang dipilih harus mampu merepresentasikan populasi sehingga sampel dapat digeneralisasikan.


 

Pentingnya menentukan ukuran sampel, jika populasi relatif besar, penelitian terhadap populasi membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang besar sehingga dengan adanya penarikan sampel dapat menghemat ketiganya, serta memudahkan dalam mengeneralisasikan suatu kasus meskipun variasi dalam populasi jumlahnya banyak. Ukuran sampel secara tepat diestimasi melalui keputusan tingkat akurasi yang dikehendaki sehingga sangat berpengaruh pada besar kesalahan (Sampling error) yang akan diterima (Nachmias dalam Silalahi, 2009). Ukuran sampel bergantung pada jenis analisis data, keakuratan sampel yang sesuai dengan maksud peneliti, waktu dan sumber daya, derajat kepercayaan, serta ciri dari populasi apakah termasuk homogeny atau heterogen (Stephan dan McCarthy dalam Silalahi, 2009).

Menurut Prasetyo (2013), ada beberapa hal yang mempengaruhi besarnya ukuran sampel yang diambil diantaranya ialah:

1. Heterogenitas dari populasi
  Semakin heterogen sebuah populasi maka jumlah sampel yang dibutuhkan semakin besar sehingga hal ini dapat menghasilkan sampel yang dapat mewakili karakteristik dari populasi yang ada
2. Jumlah Variabel yang digunakan
  Semakin banyak variabel yang digunakan maka tentunya semakin banyak pula sampel yang akan diambil. Hal ini ditinjau dari adanya pengujian hubungan antara variabel.
3. Teknik penarikan sampel yang digunakan
  Teknik penarikan sampel yang digunakan sangat berpengaruh terhadap ukuran sampel. Sebagai contohnya, jika menggunakan tekhnik penarikan sampel acak sederhana yang jumlah sampelnya tidak terlalu berpengaruh. Berbeda halnya jika menggunakan tekhnik penarikan sampel acak berlapis, dimana semakin banyak lapisannya maka akan semakin besar pula sampel yang dibutuhkan.

Selain beberapa hal diatas, maka untuk mengestimasi jumlah sampel maka perlu pula dipersiapkan beberapa hal diantaranya parameter yang akan diteliti (mean atau proporsi), jumlah harga alpha (size of test) atau beta (power of test) yang akan digunakan dalam penelitiannya, serta berapa besar jumlah penyimpangan yang ditolerir dalam penelitian yang dilakukannya (Santoso, 2005).

Menurut Silalahi (2009), dalam menentukan ukuran sampel dapat dilakukan melalui dua cara yakni:

1. Cara pertama lebih kearah konvensional. Hal ini terkait pada aturan kebiasaan yang sesuai dengan syarat metode statistik sehingga cara ini lebih sering digunakan. Dalam menggunakan cara ini, perlu memperhatikan prinsip dalam ukuran sampel. Dimana semakin kecil populasi maka rasio pemilihan sampel akan semakin besar sehingga sampel yang dihasilkan akan akurat. Maka dari itu umumnya peneliti memilih salah satu dari beberapa pilihan berikut:
 
  a. Jumlah sampel yang berkisar ± 30 kasus maka dapat dilakukan analisis statistic
  b. Berdasarkan persentasi yang layak untuk dijangkau maka jika jumlah populasi kecil (< 1000) maka rasio pemilihan sampel yang akan dibutuhkan besar (± 30%)
  c. Jumlah sampel paling minimal yang diambil dari populasi untuk jenis penelitian deskriktif sebesar 10%, penelitian korelasional atau kausal sebesar 30 sampel, serta untuk penelitian eksperimen dengan control yang ketat maka dibutuhkan ± 15 subjek perkelompok. Pada bagian ini akan cenderung digunakan apabila populasi berukuran besar dan tidak digunakan untuk populasi yang berukuran kecil.
   
2. Cara kedua ini menekankan pada pembuatan asumsi-asumsi tentang populasi oleh peneliti berupa derajat konfidensi (jumlah error) yang dapat diterima dan derajat variasi dalam populasi. Untuk pemilihan sampel acak maka akan mengikuti ketentuan berikut,
 
  a. Menentukan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan oleh Isaac dan Micheal dengan tingkat kesalahan 1%, 5%, dan 10% melalui daftar tabel krecjie (Sugiyono, 2014). Rumus yang digunakan untuk menghitung ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya ialah,

Dimana,

S = Jumlah sampel
= chi kuadrad yang tergantung pada derajat kebebasan (1) dan tingkat kesalahan (1%, 5%, 10%)
N = Jumlah populasi
P = Peluang benar (0,5)
Q = Peluang salah (0,5)
d = Perbedaan sampel yang diharapkan dengan  sampel yang terjadi (1%, 5%, 10%)

 

Tabel: Penentuan Jumlah Sampel dari Populasi Tertentu dengan taraf kesalahan 1%, 5%, dan 10% (N adalah ukuran populasi; S adalah ukuran sampel dengan masing-masing signifikansi)

   N

           S

   N

            S

      N

             S

1%

5%

10%

1%

5%

10%

1%

5%

10%

10

10

10

10

280

197

115

138

2800

537

310

247

15

15

14

14

290

202

158

140

3000

543

312

248

20

19

19

19

300

207

161

143

3500

558

317

251

25

24

23

23

320

216

167

147

4000

569

320

254

30

29

28

27

340

225

172

151

4500

578

323

255

35

33

32

31

360

234

177

155

5000

586

326

257

40

38

36

35

380

242

182

158

6000

598

329

259

45

42

40

39

400

250

186

162

7000

606

332

261

50

47

44

42

420

257

191

165

8000

613

334

263

55

51

48

46

440

265

195

168

9000

618

335

263

60

55

51

49

460

272

198

171

10000

622

336

263

65

59

55

53

480

279

202

173

15000

635

340

266

70

63

58

56

500

285

205

176

20000

642

342

267

80

71

65

62

600

315

221

187

40000

563

345

269

85

75

68

65

650

329

227

191

50000

655

346

269

90

79

72

68

700

341

233

195

75000

658

346

270

95

83

75

71

750

352

238

199

100000

659

347

270

100

87

78

73

800

363

243

202

150000

661

347

270

110

94

84

78

850

373

247

205

200000

661

347

270

120

102

89

83

900

382

251

208

250000

662

348

270

130

109

95

88

950

391

255

211

300000

662

348

270

140

116

100

92

1000

399

258

213

350000

662

348

270

150

122

105

97

1050

414

265

217

400000

662

348

270

160

129

110

101

1100

427

270

221

450000

663

348

270

170

135

114

105

1200

440

275

224

500000

663

348

270

180

142

119

108

1300

450

279

227

550000

663

348

270

190

148

123

112

1400

460

283

229

600000

663

348

270

200

154

127

115

1500

469

286

232

650000

663

348

270

210

160

131

118

1600

477

289

234

700000

663

348

270

220

165

135

122

1700

485

292

235

750000

663

348

271

230

171

139

125

1800

492

294

237

800000

663

348

271

240

176

142

127

1900

498

297

238

850000

663

348

271

250

182

146

130

2000

510

301

241

900000

663

348

271

260

187

149

133

2200

520

304

243

950000

663

348

271

270

192

152

135

2600

529

307

245

1000000

663

348

271

 

 

 

 

 

 

 

 

 

664

349

272

Sumber : Sugiono (2014)

Selain dari tabel diatas, Nomogram Harrry King dapat pula digunakan dalam menentukan ukuran sampel dari populasi hingga batas maksimum 2000 dengan taraf kesalahan yang bervariasi dimulai dari 0,3% hingga 15% dimana faktor penggali disesuaikan dengan kesalahan yang ditentukan (Sugiyono, 2014).

  

 

Sumber: (Sugiyono, 2014)

  b. Menentukan jumlah sampel melalui persamaan statistic dengan mengitungnya menggunakan SPSS atau secara manual. Menurut Prasetyo (2013), Adapun rumus yang dapat digunakan ialah rumus slovin,
   

Dimana,

n = Besaran sampel
N = Besaran populasi
e = Nilai kritis (batas ketelitiaan) yang diinginkan

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Prasetyo B, Jannah L.M. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif. Rajawali Pers: Jakarta

Santoso, Gempur. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Prestasi Pustaka: Surabaya

Silalahi, Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Refika Aditama: Bandung

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Alfabeta: Bandung

 

 

 

WUJUDKAN DESA MANDIRI, LPM PENALARAN UNM DAN BANK INDONESIA BERKOLABORASI LAKSANAKAN PELATIHAN OLAHAN RUMPUT LAUT DI TAKALAR.

 

Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran UNM (LPM Penalaran UNM) dan Bank Indonesia bekerjasama dalam pelatihan pengolahan rumput laut di Kabupaten Takalar. Pelatihan ini dibuka dan dimulai pada hari kamis, 26 Mei 2016. Kegiatan ini merupakan program kerja BI dalam rangka pemberdayaan perempuan desa Ujung Baji Kabupaten Takalar dan bentuk pelaksanaan tindak lanjut LPM Penalaran UNM yang pada tahun 2015 telah melaksanakan pelatihan di Desa Maccini Baji Desa Ujung baji Kabupaten Takalar. Adapun peserta dari pelatihan ini adalah istri petani rumput laut dusun Maccini Baji desa Ujung Baji kabupaten Takalar.


Pelatihan ini dilaksanakan selama dua hari yaitu pada tanggal 26-27 Mei 2016 di Hotel Grand Kalampa Takalar. Pembukaan pelatihan ini dihadiri oleh kepala perwakilan Bank Indonesia wilayah Sulawesi Selatan, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Takalar dan Bapak Camat dari Kecamatan Sanrabone Kabupaten Takalar. Acara pembukaan pelatihan ditutup dengan penyerahan peralatan pengolahan rumput laut secara simbolis dari pihak BI kepada peserta pelatihan yang merupakan ibu-ibu dari Dusun Maccini Baji.

Kegiatan pelatihan ini melibatkan bantuan dari pelatih pengembangan rumput laut yaitu Alga’e yang berasal dari Kabupaten Bantaeng. Tim Alga’e ini dihadirkan oleh BI guna meningkatkan jiwa wirausaha ibu-ibu dusun dalam usaha olahan rumput laut. Selain itu Tim Alga’e juga berperan dalam meningkatkan skill ibu-ibu dusun dalam pengolahan rumput laut yang sebelumnya telah dilatih oleh LPM Penalaran UNM pada bulan Agustus tahun 2015.

Dusun Maccini Baji merupakan wilayah pesisir paling ujung dari Desa Ujung Baji Kabupaten Takalar. Hampir seluruh kepala keluarga yang ada didusun ini bekerja sebagai petani rumput laut. Selama ini masyarakat hanya menjual hasil panen rumput laut baik dalam bentuk basah maupun kering kepada para pengepul. Tidak menentunya harga jual dari rumput laut dan seringnya terjadi gagal panen menyebabkan masyarakat di Dusun Maccini Baji resah dengan kondisi perekonomiannya.

Berdasarkan permasalahan tersebut LPM Penalaran UNM melaksanakan pelatihan pengolahan rumput laut yang disebut dengan Karya Bakti Ilmiah (KBI) pada tahun 2015 kemarin. Dan pada tahun ini BI hadir dengan program pemberdayaan perempuan, bersama LPM Penalaran UNM dalam agenda follow up KBI kembali melaksanakan program pelatihan pengolahan rumput laut di Dusun Maccini Baji sekaligus memberi bantuan peralatan pengolahan rumput laut. “kami merasa bersyukur sekali dengan adanya bantuan pelatihan ini, kami berterimakasih sebesar-besarnya kepada adek mahasiswa LPM Penalaran UNM dan kepada BI yang telah menyelenggarakan pelatihan ini. Semoga kedepannya pendapatan dari rumah tangga masyarakat Dusun Maccini Baji dapat lebih meningkat”, ujar dari Insana Dg Rimang yang merupakan peserta dari pelatihan ini.

 

Tipe-tipe Kuesioner

Kuesioner penelitian adalah beberapa kumpulan pertanyaan sebagai bahan acuan untuk mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang kita inginkan dari penelitian tersebut. Terkadang bagi para peneliti pemula, membuat sebuah daftar pernyataan yang akan dituangkan dalam sebuah daftar pertanyaan dan pernyataan amatlah sulit. Akibatnya, apa yang kita inginkan dari penelitian tidak tercapai dengan maksimal. Akibatnya apa yang kita inginkan dari penelitian tidak tercapai secara maksimal. Perlu diingat bahwasanya baik tidaknya kuesioner yang kita buat tergantung dari tajam tidaknya penggalian masalah yang kita inginkan dari variabel. Olehnya itu, sebelum kita membuat kuesioner perlu kita ketahui tipe-tipe kuesioner. Umumnya kuesioner terbagi atas beberapa jenis yaitu sebagai berikut:

Read more ...

Pimpinan

Ketua Umum

(Mukhbi Dwi Putra)

 

Sekretaris Umum

(Muhammad Alimka)

 

Wakil Sekretaris

Umum

(Ika Puspita Sari)

Bendahara Umum

(Ismi Ardianti)

 

Ketua Divisi

 

 

Search

Twitter

Galeri


 

Jumlah Pengunjung

1.png9.png4.png2.png5.png
Hari ini940
Kemarin1924
Minggu ini11425
Bulan ini19425
Total19425

Peta Rumah Nalar

JSN Solid template designed by JoomlaShine.com