You are here:

www.penalaran-unm.org

email_icon chat_icon fb_icon twittericon media_browser_icon Statistik_Icon_
Email Chatting Grup Facebook Twitter Nalar Today Statistik Web

Salah Satu Solusi Dalam Mengurangi Kemiskinan dan Pengangguran

Print PDF

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah. Tetapi hal itu masih kurang diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki bangsa ini. Hal ini dipengaruhi karena mutu pendidikan di indonesia belum menggembirakan. Meskipun Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, telah lama dilakukan. Bahkan peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Berbagai program dan inovasi pendidikan, seperti penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku ajar dan buku referensi lainnya, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi pendidikan mereka, pengadaan fasilitas penunjang, dan lain-lain tak hentinya dilakukan.

Dari dunia usaha muncul keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Mutu pendidikan masih jauh dari harapan merupakan salah satu faktornya. Sehingga tidak heran jika jumlah pengangguran dan angka kemiskinan di indonesia masih saja meningkatdari tahun-ketahun. Menurut data yang diperoleh dari Pusat Informasi KOMPAS (22 Februari 2009), angka kemiskinan di Indonesia sebesar 35 juta orang, jumlah pekerja yang sudah terkena PHK: 27.578 orang, 24.817 orang lagi sudah masuk daftar tunggu PHK, 11.993 pekerja sudah dirumahkan, 11.191 pekerja menunggu proses dirumahkan, 600.000 tenaga kerja Indonesia terancam dipulangkan. Sekitar 14,68 % tingkat kemiskinan dari jumlah penduduk indonesia yaitu 238.452.952 jiwa. Krisis ekonomi yang belum juga berakhir ditambah dengan kualitas pendidikan yang masih kurang mengakibatkan semakin meningktanya angka pengangguran di indonesia. Kondisi yang sangat memprihatinkan untuk rakyat indonesia yang telah merdeka selama setengah abad lebih.

Mengingat semakin meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia, maka sangat dibutuhkan solusi tepat untuk untuk mengatasinya. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep kewirausahaan. Konsep kewirausahaan yang tidak hanya mengandalkan kemampuan tenaga kerja seseorang, namun juga mampu menciptakan lapangan kerja untuk diri sendiri dan orang lain. Tidak imbangnya jumlah pelamar kerja dan lowongan kerja merupakan gejalanya merata di seluruh pelosok, (bahkan jumlah penganggur terdidik semakin membesar) menunjukkan kecilnya jiwa kewirausahaan. Para lulusan lebih tampil sebagai pencari kerja dan belum sebagai pencipta lapangan kerja. Tidak terserapnya lulusan pendidikan ke lapangan kerja memang tidak sepenuhnya disebabkan faktor tak adanya jiwa kewirausahaan. Banyak faktor lain menjadi penyebab. Meskipun demikian, tampaknya faktor dan tantangan terpenting adalah bagaimana institusi pendidikan berhasil membentuk atau menanamkan semangat, jiwa, dan sikap kewirausahaan.

Pendidikan yang demikian adalah pendidikan yang berorientasi pada pembentukan jiwa entrepreneurship, ialah jiwa keberanian dan kemauan menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar, jiwa kreatif untuk mencari solusi dan mengatasi problema tersebut, jiwa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Salah satu metode untuk menanamkan semangat, jiwa, dan sikap kewirausahaan adalah dengan metode pendidikan life skiil. Salah satu jiwa entrepreneurship yang perlu dikembangkan melalui pendidikan pada anak usia pra sekolah dan sekolah dasar, adalah kecakapan hidup (life skill). Life skill adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.

Pendidikan yang berwawasan kewirausahaan adalah pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan kecakapan hidup (life skill). Metode  pengembangan kewirausahaan di kalangan tenaga pendidik dirasakan sangat penting. Karena pendidik adalah ‘agent of change’ yang diharapkan mampu menanamkan ciri-ciri, sifat dan watak serta jiwa kewirausahaan atau jiwa ‘entrepreneur’ bagi peserta didiknya. Disamping itu jiwa ‘entrepreneur’ juga sangat diperlukan bagi seorang pendidik, karena melalui jiwa ini, para pendidik akan memiliki orientasi kerja yang lebih efisien, kreatif, inovatif, produktif serta mandiri. Penanaman semangat, jiwa, dan sikap kewirausahaan akan memberikan bekal bagi peserta didik usia dini untuk perkembangan selanjutnya.

Pendidikan life skill yang diberikan kepada anak usia dini begitu penting. Setiap orang dalam hidupnya akan diperhadapkan pada berbagai masalah problema hidup. Problematika kehidupan membutuhkan penyelesaian sendiri dan harus dipecahkan dengan menggunakan berbagai sarana dan situasi yang dapat dimanfaatkan. Kemampuan seperti itulah yang merupakan salah satu inti kecakapan hidup (life skill). Artinya kecakapan yang selalu diperlukan oleh seseorang di manapun ia berada, baik yang berstatus peserta didik, pekerja, guru, pedagang, maupun orangtua. Tidak hanya itu, pendidikan life skill akan membentuk watak dan karakter tersendiri yang dimilki oleh seseorang.

Pendidikan yang diberikan pada anak usia dini ternyata begitu penting. Hasil penelitian di bidang neurologi yang dilakukan Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat (Diktentis, 2003: 1 dalam Anonim. 2010), mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 – 4 tahun mencapai 50%, hingga usia 8 tahun mencapai 80%. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Pada dasawarsa kedua yaitu usia 18 tahun perkembangan jaringan otak telah mencapai 100%. Oleh sebab itu masa kanak-kanak dari usia 0 – 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan.

Pendidikan life skill memberikan berbagai pembelajaran umum yaitu pendidikan karakter, pendidikan akademis, pendidikan jasmani. Beberapa keunggulan model pendidikan life skill yaitu diantanya kemandirian, kejujuran, ketangguhan, kreativitas serta sikap percaya diri. Selain keinginan untuk memilki jiwa berwirausaha, kemampuan yang dihasilkan melalui pendidikan life skill adalah salah satu prasyarat untuk menumbuhkan jiwa berwirausaha yang unggul. Model pendidikan life skill yang biasanya diberikan kepada anak usia dini hanya yang ringan- ringan saja.

Sutrisno (2003) mengemukakan bahwa, kecakapan hidup (life skill) mempunyai ruang lingkup dan dapat dipilah menjadi lima bagian, ialah kecakapan mengenal diri (self awarness) yaitu kecakapan yang diperlukan seseorang untuk mengenal dirinya sendiri, kecakapan berpikir rasional (thinking skill) yaitu kecakapan yang dibutuhkan seseorang dalam pengembangan potensi berfikirnya, kecakapan sosial (social skill) yaitu kecakapan bekomunikasi untuk berinteraksi sosial dengan sesorang dalam bekerjasama, kecakapan akademik (academic skill) yaitu kecakapan seseorang dalam bersikap atau berpikir ilmiah, dan kecakapan vokasional (vocational skill) yaitu keterampilan yang dikaitkan dengan berbagai bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat.

Tingginya persaingan dalam memperoleh pekerjaan mengakibatkan seseorang yang tidak memperoleh pendidikan yang lebih tinggi akan semakin tersingkir. Namun pembekalan pendidikan life skill memberikan peluang berwira usaha bagi seseorang. Jiwa dan semangat wira usaha yang diperoleh melalui pendidikan life skill mampu membawa seseorang keluar dari masalahnya. Bahkan jika seseorang tersebut memiliki kemampuan yang lebih, juga akan mampu memberikan solusi terhadap masalah orang lain yaitu pengangguran. Kemampuan yang dimiliki dalam berwirausaha yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan orang lain adalah salah satu langkah dalam pemberantasan kemiskinan dan pengangguran. Apabila masalah pengangguran dapat teratasi, maka dengan sendirinya tingkat  kemiskinan kemungkinan terbesarnya akan menurun.

Tidak sampai disitu, pemerintah tentunya diharapkan memberikan dorongan penuh terhadap kegiatan pengembangan kewirausahaan.  Mengingat Instruksi Presiden No. 4 Th 1995 tanggal 30 Juni 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan, mengamanatkan kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia, untuk mengembangkan program-program kewirausahaan. Pemerintah menyadari betul bahwa dunia usaha merupakan tulang punggung perekonomian nasional, sehingga harus digenjot sedemikian rupa melalui berbagai Departemen Teknis maupun Institusi-institusi lain yang ada di masyarakat. Inpres tersebut dapat menjadi jaminan sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap pengembangan kewirausahaan. Terwujudnya jiwa-jiwa kewira usahaan diharapkan akan membawa kebangkitan bangsa indonesia.

Model  pendidikan life skill dalam menanamkan jiwa-jiwa kewirausahaan pada anak usia dini diharapkan mampu membawa indonesia keluar dari masalah kemiskinan dan pengangguran. Semangat kewirausahaan sangat diperlukan oleh masyarakat pada umumnya. Kebutuhan akan tenaga kerja yang semakin kompetitif memelukan kreatifitas seseorang untuk berwirausaha. Sesorang yang mungkin dalam hidupnya hanya terus digaji semata harusnya berfikir untuk tidak selamanya digaji. Tetapi dari yang awalnya digaji dapat menggaji. Artinya, keberadaan semangat kewirausaan dari kecil dengan implementasi yang positif pada perkembangan selanjutnya diharapkan kepada setiap orang untuk mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan orang lain. Keberadaan lapangan pekerjaan sangat dibutuhkan dalam memberantas pengangguran dan kemiskinan. Semoga semangat perjuangan dalam memberantas kemiskinan dan pengangguran dapat teratasi dengan kewirausaan. Karena salah satu kunci kebangkitan bagsa ini adalah pengembangan kewirausaan.

Comments (6)

Subscribe to this comment's feed
...
0
konsepnya bagus "mengurangi pengangguran dan kemiskinan melalui kewirausahaan", akan tetapi tidak semudah itu menerapkan konsep kewirausahaan, salah satu permasalahan dunia pendidikan di negeri kita ini yaitu pada kurikulum, dimana penyusunan kurikulum disusun oleh birokrat, semestinya kurikulum disusun antara lembaga penyelenggara pendidikan bersama dunia usaha dan industri (DUDI) agar ada kesesuaian jenis kompotensi yang dibutuhkan DUDI, bersambung mahasiswa Jurusan PLS FIP UNM
harainto , June 28, 2011
...
0
saya setuju dengan statement diatas,. pengangguran bisa dikurangi dengan pendirian lapangan kerja,.
dan untuk itu kita harus menanamkan jiwa enterpreneurship pada jiwa muda,. ^^
belle , September 20, 2011 | url
trims...
181
terima kasihhh....
kamaruddin , September 20, 2011
Solusi Kongkrit
0
Entrepreneurship? Bisa dijelaskan langkah kongkritnya?
Seseorang (dari jutaan) Penganggur pencari, Pencari dan PENCARI kerja/ kegiatan yang bisa menghasilkan uang halal untuk kebutuhan hidupnya sehari hari, bisa mampu memiliki kehidupan layak seperti saudara saudara sebangsa lainnya yang beruntung? dan bahkan bisa mampu mengangkat kehidupan PEMBERI kegiatan/ kerja bagi saudara saudara sebangsa lainnya yang kurang beruntung?
suherman , September 30, 2011
...
0
memang dengan berwirausaha adalah langkah yang tepat untuk mengurangi pengangguran,,dimana kita bukan saja MENCARI AKAN LAPANGAN PEKERJAAN,,namun kita bisa MENCIPTAKAN LAPANGAN PEKERJAAN
Inda Tunas , February 03, 2012
Wonderful!
0

Write comment

smaller | bigger

busy
Last Updated ( Friday, 27 May 2011 13:48 )  

Pencarian

Layanan Online

HUMAS
1. Kamaruddin
2. humas_02
3. humas_03
4. humas_04
5. humas_05
KLINIK ILMIAH
1. Arman M. Yusuf
2. Erwin Saputra
3. Hilman Wirawan
WEB SUPPORT
1. Electindo
2. Mahyuddin

Sekretariat: Jl. Dg. Tata Kompleks Hartaco Indah Blok IIA/20 Makassar Indonesia Telp. (0411) 840556 Email: info@penalaran-unm.org