You are here:

www.penalaran-unm.org

email_icon chat_icon fb_icon twittericon media_browser_icon Statistik_Icon_
Email Chatting Grup Facebook Twitter Nalar Today Statistik Web

Metode Ilmiah Vs Pseudoscience

Print PDF

Kita sering sekali mendengar ucapan, “Wah, itu tidak ilmiah!” terutama apabila seseorang menunjukkan ketidak setujuan terhadap sesuatu. Contohnya, wah, mobil berbahan bakar air itu tidak ilmiah, atau aktifitas paranormal, UFO itu semua tidak ilmiah. Lalu, apa sih yang disebut ilmiah itu? Artikel singkat ini bertujuan untuk menggambarkan proses yang dilalui dalam metode ilmiah. Ilmu pengetahuan itu sendiri ada dua macam: ilmu alam dan ilmu sosial. Sebelumnya saya ingin membatasi dahulu, yang kita bicarakan di sini adalah metode ilmiah dalam ilmu alam, bukan ilmu sosial, karena ada sedikit perbedaan antara keduanya.

Secara umum, metode ilmiah adalah kaidah, juklak, prosedur yang harus diikuti untuk mendapatkan kebenaran atau jawaban atas suatu pertanyaan. Bagaimana prosedurnya? Mari kita lihat tahapan-tahapannya. Yang pernah membuat skripsi tentunya akrab dengan tahapan-tahapan semacam ini.

1. Pertanyaan. Suatu teori ilmiah harus dimulai dari pertanyaan. Dengan pertanyaanlah kita bisa berkembang dan menemukan sesuatu yang baru. Pertanyaan ini bisa berasal dari observasi, ataupun dari hal-hal yang belum sepenuhnya dijawab dalam penelitian sebelumnya.

2. Studi literatur. Apakah pertanyaan ini sudah dijawab oleh orang lain? Atau adakah landasan teori untuk pertanyaan ini? Semua itu akan terjawab dengan melihat hasil penelitian orang lain.

3. Hipotesa dan prediksi. Tahap kedua adalah membentuk hipotesa, atau kemungkinan jawaban atas pertanyaan tersebut. Tanpa adanya hipotesa, tentunya penlitian tidak akan terarah. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita selalu berhipotesa. Seandainya mobil kita mogok, kita akan menebak-nebak apa penyebab mobil itu mogok, sebelum kita mengecek mesinnya. Tanpa membuat hipotesa, kita akan mengecek semua bagian mesin, tentunya merepotkan sekali.

4. Eksperimen. Setelah kita memformulasikan hipotesa, membuat prediksi, lalu kita melakukan uji eksperimen untuk menguji apakah hipotesa yang kita buat sudah benar. Apabila salah, berarti kita harus mengulang membuat hipotesa baru, dan mengujinya kembali.

5. Kesimpulan. Setelah menguji hipotesa, apabila terbukti benar, kita bisa menarik kesimpulan.

Selesaikah? Belum!! Kebanyakan orang cukup akrab dengan tahapan 1-5 di atas, tapi metode ilmiah tidak berhenti sampai di situ saja. Ada sedikit lagi tahapan yang ternyata amat sangat penting. Saya bertanya kepada beberapa orang yang saya kenal (yang pernah menulis skripsi tentunya), dan pada umumnya selesai sampai 5 tahap di atas tadi, dan kurang akrab dengan tahapan-tahapan berikutnya:

6. Peer review. Ini adalah proses di mana hasil penelitian dan kesimpulan di-review oleh rekan sesama ilmuwan, yang berfungsi untuk mengevaluasi secara obyektif. Kenapa? Karena manusia pada dasarnya adalah subyektif. Bayangkan peneliti yang berbulan-bulan mengerjakan penelitian yang dia mulai sendiri, tentunya ada unsur subyektifitas di situ. Mungkin saja eksperimennya bukan lagi menguji hipotesa secara obyektif, tapi malah menggiring eksperimen supaya sejalan dengan hipotesa dia sendiri!! Namanya juga manusia!! Kita menyadari kelemahan kita sendiri sebagai manusia, karena itulah kita menciptakan mekanisme untuk menutupi kelemahan kita sendiri.

7. Publikasi. Hasi karya yang sudah lolos peer review tentunya layak menjadi hasil karya ilmiah yang bisa dipublikasikan dalam jurnal penelitian ilmiah. Selamat!! Sayangnya belum selesai, masih ada satu tahapan lagi!!

8. Pengujian ulang. Setelah dipublikasikan, tentunya karya itu akan dibaca banyak orang, dan besar kemungkinan akan menghasilklan pertanyaan-pertanyaan baru. Sebagian orang akan menguji kembali hasil penelitian tersebut, mungkin dengan menambahkan variabel yang berbeda. Kalau penelitian itu dapat diulang kembali dan memberikan hasil yang sama, maka kesimpulan dari penelitian tersebut akan bertambah kuat dan bukan tidak mungkin suatu saat akan menjadi teori baru.

Sayangnya tidak semua orang akrab dengan metode ilmiah, terutama untuk tahapan 6, 7 dan 8 di atas. Sehingga masyarakat mudah sekali terjebak dalam ilmu jadi-jadian alias pseudoscience. Syarat dari suatu klaim ilmiah adalah:
  • Penelitiannya dapat direplikasi, atau diulangi lagi, dan tetap memberikan hasil yang sama. Jadi apabila ada yang mengklaim menemukan pupuk super, namun formulanya rahasia, dan hanya dia yang bisa menggunakannya, tentu saja ini omong kosong belaka. Demikian pula apabila ada yang bisa menciptakan bahan bakar air di laboratorium rahasia di rumahnya, tentu saja ini lebih omong kosong lagi. Pada era tahun 1990-an ada yang mengklaim menemukan reaktor fusi dingin. Namun tidak ada satupun yang bisa mereplikasi penemuan itu, sehingga tentu saja itu hasilnya tidak diterima secara ilmiah.
  • Penelitiannya dapat difalsifikasi (dibuktikan kesalahannya). Apa maksudnya? Misalnya saya bilang bahwa saya melihat cahaya aneh kemarin malam jam 8:15, dan terbang ke arah utara. Lalu saya bilang bahwa itu adalah pesawat makhluk angkasa luar. Adakah yang bisa membuktikan bahwa saya salah? Tentu saja tidak, karena untuk membuktikan saya salah ya harus mengejar cahaya aneh itu dan membuktikan bahwa itu bukan pesawat alien. Klaim UFO tidak bisa difalsifikasi sehingga itu bukanlah bukti ilmiah.
Saya ambil satu contoh klaim ilmiah yang bisa difalsifikasi. Misalnya saya mengklaim secara ilmiah bahwa benda berat dan ringan akan memiliki kecepatan jatuh yang sama. Bagaimana cara memfalsifikasinya? Mudah sekali. Ambil dua buah bola, satu dengan bobot 10kg dan satu lagi dengan bobot 100 gram. Jatuhkan secara bersamaan, apabila bola dengan bobot 10 kg jatuh terlebih dahulu dibanding bola yang berbobot 100 gram, maka klaim ilmiah saya terbukti salah. Mari bandingkan dengan klaim UFO di atas.

Penting sekali bagi kita untuk memahami prinsip dasar dalam dunia ilmiah, minimal supaya kita tidak terjebak dalam pseudoscience atau ilmu jadi-jadian. Ilmu jadi-jadian adalah ilmu yang diklaim mengikuti kaidah-kaidah ilmiah, tapi sebenarnya sama sekali tidak ilmiah. Kebanyakan ilmu-ilmu seperti ini tidak melewati tahap 5, 6 dan 7, sehingga mudah sekali dibelokkan ke kesimpulan dan eksperimen yang keliru. Contohnya? Sudah saya berikan beberapa contohnya, seperti UFO, astrologi, bahan bakar air, perpetual motion engine, paranormal, foto aura, penyembuhan menggunakan magnet, kristal air, dan masih banyak lagi.

Bangsa kita tidak akan maju sedikitpun apabila kita masih terus saja percaya pada ilmu jadi-jadian atau pseudoscience seperti itu. Yang ada hanyalah delusi, berpikir seolah-olah kita sudah maju, padahal hasilnya nol besar. Memang pseudoscience ini bukanlah monopoli negara kita saja, di negara seperti Amerika pun juga marak. Namun, karena mereka sudah maju jauh di bidang teknologi, sehigga kerusakannya tidak seberapa besar. Bagaimana dengan kita? Kita sudah ketinggalan puluhan bahkan ratusan tahun, tapi masih mau dirusak pula oleh hal-hal seperti ini?

Sebagai penutup, saya ingin merekomendasikan suatu buku yang ditulis oleh Prof. Richard Feynman, salah satu pemenang nobel di bidang fisika. Buku ini berjudul “Surely you’re joking, Mr. Feynman!.” Buku ini sangat ringan untuk dibaca, ditulis dengan nada humor tentang kehidupannya dia sehari-hari. Dalam buku itu juga banyak sekali penggambaran tentang pola berpikir secara ilmiah, tentunya dengan topik yan sangat ringan. Di Indonesia sudah diterjemahkan oleh Penerbit Mizan denga judul “Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika”. Di bagian akhir buku itu ada satu bab berisi pidato dia di Universita Caltech, yang isinya tentang pseudoscience. Selamat membaca.

Disadur dari: (http://teknologi.kompasiana.com/2010/01/02/metode-ilmiah-vs-pseudoscience/)

Comments (6)

Subscribe to this comment's feed
To my mind
0
For active rapidshare users one of the most convenient ways of finding films/music at rapidshare is to use rapidshare SE
Kayla , June 16, 2010
To my mind
0
For active rapidshare users one of the most convenient ways of finding films/music at rapidshare is to use rapidshare SE
Kayla , June 16, 2010
cheap ugg boot store
0
It is from Act II Scene I Duke Senior, the banished duke says about uggs bailey button boots Sweet uses of adversity.To quote a part of it “Sweet are the uses of adversity, Which, like the toad, ugly and venomous, And this our life exempt from public haunt Finds tongues in ugg argyle knit sale trees, books in the running.
uggs on sale in uk , August 03, 2010 | url
MLB Jerseys
0
It is not rude, it is not self-seeking, it is not easily angered, it NHL Jerseys keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always MLB Jerseys hopes, always perseveres. where there are tongues, they will be stilled; where there is knowledge, it will pass away. When I was a child, I talked like a child, I thought like a child, I reasoned like a child.
MLB Jerseys , September 03, 2010 | url
...
0
Wah, kalimat "Kita sudah ketinggalan puluhan bahkan ratusan tahun" hiperbola sekali *atau justru litotes ya? Agak mengusik saya. Marilah kita tidak lagi bersikap pesimis terhadap bangsa sendri!
Aryaka , December 02, 2010
http://www.lovejerseys.com/nfl-jersey-c-65.html/
0
"Among the many baseball players and available shirts, shirts, Derek Jeter and Alex Rodriguez are definitely the most popular and sold well in recent years. These two top-selling Discount NFL jerseys are the most duplicates. Remember to check out that there are no problems of legitimacy. As with any shirt other than a broker, check the MLB logo on the jersey, sewing properly, and other signs of replica jerseys.

"
Discount NFL jerseys , December 24, 2010 | url

Write comment

smaller | bigger

busy
Last Updated ( Monday, 19 April 2010 02:19 )  

Pencarian

Layanan Online

HUMAS
1. Kamaruddin
2. humas_02
3. humas_03
4. humas_04
5. humas_05
KLINIK ILMIAH
1. Arman M. Yusuf
2. Erwin Saputra
3. Hilman Wirawan
WEB SUPPORT
1. Electindo
2. Mahyuddin

Sekretariat: Jl. Dg. Tata Kompleks Hartaco Indah Blok IIA/20 Makassar Indonesia Telp. (0411) 840556 Email: info@penalaran-unm.org